Perang Praya Bagian Dua

0

 Perang Praya Bagian Dua

Hola, Sobat Bloger...!

Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem,

📸 National Gallery of Australia Kita akan melanjutkan cerita dari heroiknya perang praya atau yang biasa di sebut congah praye, mari di simak.... Praya gagal ditaklukan, Kepala Desa Batukliang jadi tumbal.
=================================================================
Kegagalan pasukan gabungan Anak Agung Made Karangasem menundukan Praya telah membuat Raja Mataram memikirkan suatu usaha penambahan pasukan. Ia memerintahkan Putra Mahkota, Anak Agung Ketut Karangasem untuk segera menghimpun pasukan dan secepatnya bergabung dengan Made di Praya.
Tanggal 25 Agustus 1891, pasukan itu pun terkumpul. Seperti halnya pasukan Made, pasukan Ketut pun merupakan pasukan gabungan. Pasukan ini terdiri dari laskar Sekarbela, Pagutan, Pagesangan, Pemenang dan ribuan laskar Sasak dari beberapa desa yang masih setia pada Mataram. Kini, total pasukan Made dan Ketut berjumlah kurang lebih 20.000 pasukan.
Pada 28 Agustus, pasukan gabungan itu mulai menyerang Praya. Praya diserbu dari berbagai arah. Praya pun menyambut dengan gagah berani. Perang berkobar sepanjang hari dan malam.
Namun, dalam serangan kali ini Praya lebih siap. Bergabungnya beberapa pimpinan perang andalan Sasak seperti Mamiq Ocet Talib, Haji Dolah dan Haji Ali telah mengangkat moral pasukan Praya. Setiap rakyat dan para pemimpin, bahu membahu menghalau serangan Mataram. Praya berperang dengan semangat tinggi dan tanpa lelah.
Sama halnya dengan pertempuran sebelumnya, beberapa pasukan Sasak yang berada di pihak Mataram tidak bertempur dengan sungguh sungguh. Seruan dari beberapa pemimpin Praya untuk jangan berperang dengan sesama saudara Sasak dan Islam berhasil membuat keraguan dalam hati sebagian dari laskar Sasak yang ada di pihak Mataram. Tidak sedikit dari pasukan Sasak itu bergabung dengan Praya.
Melihat hal itu, Made dan Ketut murka. Bagi pasukan Sasak yang masih enggan maju ke garis depan, diperintahkan untuk ditembak. Begitulah, beberapa pasukan Sasak terpaksa meregang nyawa karena diberondong peluru dari pasukan Mataram.
Akibatnya adalah, meskipun Mataram berhasil membumihanguskan seluruh kampung, termasuk masjid Praya. Namun, sekali lagi, Praya tidak bisa dikuasai. Untuk kedua kalinya, Mataram gagal menaklukan Praya.
Karena kegagalan itu, beberapa punggawa Mataram dilaporkan sangat takut untuk menghadap ke raja Mataram. Diceritakan, seorang punggawa bernama Ida Nyoman Gelgel akhirnya berani menghadap ke Raja. Dihadapan Raja, Ida Nyoman Gelgel menceritakan kegagalan Made dan Ketut dalam menaklukan Praya.
Mendengar berita kegagalan dua orang putranya itu, Raja menyampaikan pesan pada Made dan Ketut. "Mereka berdua", kata Raja, "jika memang tidak mampu untuk menaklukan Praya, sebaiknya pulang saja ke Cakranegara, biar Raja sendiri yang akan turun langsung ke medan perang".
Alfons Van der Kraan yang mengutip surat Sech Abdat dalam buku Lombok, Penaklukan, Penjajahan dan Keterbelakangan 1870-1940, menyebutkan, akibat dari banyaknya pasukan Sasak yang membelot ke Praya, pada 18 September, Made dan Ketut menangkap 12 pemuka Sasak, salah satunya adalah kepala desa Batukliang. Ia ditangkap bersama 450 pengikutnya.
12 bangsawan Sasak itu, termasuk kepala desa Batukliang dieksekusi mati, sedangkan pengikutnya dipenjara di Cakranegara dan sebagian dibuang ke gili Trawangan.
Berita eksekusi mati beberapa pemuka Sasak itu telah membuat geger seluruh desa di Lombok. Para pemimpin Sasak lainya akhirnya bersatu, mereka membuat komitmen, ketimbang menunggu giliran untuk disembelih, lebih baik berperang dengan Mataram.
Made dan Ketut tidak menyangka akibat dari tindakan yang mereka perbuat. Awalnya mereka mengira, dengan eksekusi mati itu, para pemimpin Sasak lainya akan menjadi takut dan patuh, namun, kenyataan berkata lain. Eksekusi mati pemimpin Sasak itu telah menyulut perang yang lebih besar di seluruh desa, perang yang awalnya hanya di Praya, kini meluas di seluruh Lombok.
Beberapa pimpinan Sasak seperti, Mamiq Bangkol, Mamiq Sapian, Mamiq Diraja, Haji Yasin, Haji Ali, Mamiq Ocet Talib, Mamiq Mustiaji dari Kopang, Raden Wiranom dari Pringgabaya, Raden Ratmawa dari Rarang, Raden Melaya Kusuma dari Masbagek, Raden Umas dari Jonggat, Tuan Guru Ali Batu dan Raden Nursasih dari Sakra, bertekad untuk bersama sama menghadapi Mataram, mereka bersumpah tidak akan mengakui raja Mataram sebagai raja mereka lagi.
Langkah awal yang diambil para pemimpin itu adalah sesegera mungkin menghilangkan pengaruh dan meruntuhkan seluruh kekuasaan Mataram yang ada di Lombok bagian timur.
Rakyat pun menyambut seruan perang dari para pemimpin itu. Beberapa puri bangsawan Mataram yang ada di desa Pringgasela, Mamben, Pringgabaya, Kotaraja, Rumbuk, Sakra, Rarang, Jerowaru, Suranadi, Kalijaga, Sukadana, Mujur, Pujut, Kawo, Penujak, Batujai dan lain lain di serang dan dibakar.
Mengetahui seluruh desa di Lombok bagian timur telah bangkit melawan Mataram, pada 22 September 1891, Made dan Ketut segera menarik pasukanya dari Praya. Kini pasukan Mataram hanya mampu bertahan di sebelah barat sungai Babak, sedangkan wilayah timur sungai Babak, kecuali Kotaraja, telah sepenuhnya dikuasai oleh laskar Sasak.
Sejak penarikan pasukan itu, praktis hampir seluruh kekuasaan Mataram di Lombok bagian timur telah sepenuhnya runtuh.
Bersediakah Raja Mataram menyerahkan begitu saja daerah yang pernah dikuasi itu ke tangan para pemuka Sasak? Kira kira taktik seperti apa yang akan dijalankan oleh raja Mataram untuk merebut kembali wilayah wilayah itu?
sumber : facebook.com/Lombok-Heritage-and-Science-Society-102133795036323
Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)