Perang Praya Bagian Satu

0

  Hola, Sobat Bloger...!


PERANG PRAYA

Pada postingan kali ini kita akan membahas salah satu perang yang sangat heroik yang terjadi antara orang praya melawan Mataram yang kala itu masih dibawah kekuasaan Bali, mari kita simak sejarahnya...


Guru Ayang dibunuh, Praya bangkit melawan Mataram.

================================================================

Mataram yang sejak 1840 merupakan penguasa tunggal tanah Lombok, dengan segala kuasa yang dimiliki terus saja berupaya melemahkan peran para pemuka Sasak. Merosotnya kekuasaan yang dimiliki beberapa bangsawan Sasak ini, telah melahirkan sikap bermusuhan pada raja Mataram, lebih lebih sejak 1884, saat roda pemerintahan dijalankan oleh Anak Agung Made Karangasem, menggantikan peran ayahnya yang sudah mulai sepuh.

Menurut Alfons Van der Kran dalam buku Lombok, Penaklukan, Penjajahan dan Keterbelakangan 1870-1940, perihal kepemilikan tanah adalah salah satu penyebab dari merosotnya kekuasaan beberapa bangsawan Sasak.

Sistem kepemilikan tanah pada masa itu telah menjadikan kelompok Bali lebih banyak menguasai tanah daripada kelompok Sasak yang merupakan penduduk mayoritas pulau Lombok. Masih menurut Kraan, sedikitnya kepemilikan tanah pada bangsawan Sasak, disebabkan karena empat alasan. Pertama, Raja memberikan tanah hanya pada bangsawan Bali, tidak pada bangsawan Sasak. Kedua, Raja mengeluarkan undang undang yang mengharuskan bangsawan Bali, jika ingin menjual tanah mereka, harus pada sesama bangsawan Bali saja. Ketiga, pada ningrat Sasak, Raja menerapkan hukum Camput, undang undang ini menetapkan bahwa Raja berhak mewarisi semua harta benda dan tanah dari sepangan- sepangan, isteri-isteri dan putri-putri dari setiap pria yang meninggal tanpa meninggalkan seorang pewaris laki laki. Keempat, kebalikan dari bangsawan Bali, para bangsawan Sasak tidak diberi batasan dalam hal menjual tanah yang mereka miliki.

Pembangkangan bangsawan Sasak menemui titik puncaknya pada tahun 1891. Pada 22 Juni 1891, Raja mengeluarkan suatu perintah untuk mengirim beberapa ribu pasukan Sasak untuk berperang ke Karangasem Bali. Mataram saat itu terlibat perseteruan dengan Klungkung.

Di beberapa desa yang dikenakan Apati Getih atau Wajib Militer oleh Mataram, atas perintah mengumpulkan pasukan itu, mau tidak mau, suka atau tidak suka, para pemimpin desa itu harus patuh pada perintah raja Mataram.

Pada pengiriman pasukan gelombang pertama, beredar kabar bahwa pasukan Sasak yang berperang ke Karangasem banyak yang meninggal dan kekurangan bahan makanan. Disebutkan, Raja Mataram pada saat pengiriman pasukan Sasak itu tidak menyediakan bahan pangan, urusan makanan dibebankan pada masing masing orang.

Akibatnya, saat Raja mengeluarkan perintah mengumpulkan pasukan lagi pada awal Agustus, beberapa desa menolak, dan yang paling keras adalah Praya.

Untuk Praya, ada beberapa alasan khusus, kenapa saat itu paling keras menentang perintah Mataram. Beberapa tokoh Praya yang keras menyuarakan penolakan perintah mengumpulkan pasukan itu dieksekusi mati oleh Mataram. Tokoh Praya itu antara lain; Haji Tayib, Lalu Abdurahman dan Guru Ayang.

Dalam buku Arya Banjar Getas, karangan H.L Muhamad Azhar, dipimpin oleh Mamiq Bangkol alias Lalu Ismail seorang guru tarekat Naqsabandiah, bersama Mamiq Sapian dan beberapa pemuka Praya lainya mengadakan musyawarah.

Dalam musyawarah itu, dibahas berita dari Tuan Serip yang merupakan kurir dari Syaid Abdullah. Diceritakan, berdasarkan informasi dari Tuan Serip, beberapa desa seperti Sakra, Rarang, Masbagik, Jerowaru, Puyung, Kopang, Batukliang, Jonggat, Penujak, Batujai, Jelantik, Sukarara dan Kediri siap membantu Praya.

Mamiq Bangkol dan Mamiq Sapian menegaskan, apapun yang terjadi, benar atau tidaknya berita tentang akan dibantunya Praya itu, Praya akan tetap menyerang Mataram.

Rencana penyerangan itu pun menjadi kenyataan, bertepatan dengan hari Jum'at tanggal 7 Agustus 1891, selepas menunaikan ibadah sholat Jum'at di masjid Praya, rombongan pasukan Praya bergerak menuju puri seorang bangsawan Bali. Puri bangsawan itu diserang dan dibakar.

Mendengar Praya telah melakukan Congah, Raja Mataram segera membalas keesokan harinya. Pada 8 Agustus, di bawah pimpinanan Anak Agung Made Karangasem, sekitar 3000 pasukan kerajaan, ditambah dengan 8000 ribu pasukan Sasak dari beberapa desa yang masih setia pada Mataram, bergerak menuju Praya. Made dengan pasukanya mengepung Praya dari arah Barat, sedangkan pasukan Sasak lainya mengepung dari Timur.

BENTENG TE PRAJA
 

Pada 11 Agustus, seluruh kota Praya terkepung, pertempuran pun tidak bisa dihindarkan, siang dan malam peperangan terjadi. Beberapa pemimpinya ditangkap dan dipenjara. Hampir seluruh kota Praya dibakar dan dibumihanguskan, yang tersisa hanya kampung Prapen dan masjid Praya.

Atas kokohnya pertahanan masjid Praya ini, kelak melahirkan legenda tujuh pahlawan perang Praya. Tujuh orang itu adalah Mamiq Bangkol, Mamiq Diraja, Mamiq Sapian, Haji Yasin, Amaq Gewar, Amaq Tombok dan Amaq Lembain. Hampir 15 hari Praya diserbu, namun, gabungan pasukan itu belum bisa sepenuhnya menaklukan Praya. 

Beberapa pasukan Sasak yang ikut menyerang Praya tidak berperang sepenuh hati, perasaan sebagai sesama saudara Sasak dan Muslim telah membuat sebagian pasukan itu berbalik membantu Praya, salah satunya adalah Tuan Guru Haji Ali Batu, ia yang sebelumnya berada di pihak Mataram, berbalik menjadi orang yang paling menentang Mataram.

Mengetahui Praya tidak mudah untuk dikuasai, pada 25 Agustus, Raja memerintahkan sang Putra Mahkota, Anak Agung Ketut Karangasem untuk segera menyiapkan pasukan dan secepat mungkin bergabung dengan kakaknya, Anak Agung Made Karangasem.

Berhasilkah sang Putra Mahkota dengan pasukan tambahanya menghancurkan Praya? Bagaimanakah nasib rakyat Praya selanjutnya?

 
sumber : facebook.com/Lombok-Heritage-and-Science-Society
BENTENG TE PRAJA
Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)