Si Bocah Yang Termakan Perut Bumi
Anak adalah mutiara yang paling berkilau untuk kedua orang tua. Mutiara yang harus dijaga, dirawat, disayang sepanjang masa. Karena mereka merupakan aset yang tidak bersifat sementara yaitu hanya sampai dunia, melainkan sampai akherat. Anak menjadi aset yang kekal sampai kedua orang tua menutup usia. Tidakkah begitu berharganya seorang anak untuk kedua orang tua ?. Lantas, apa yang terjadi apabila anak kembali ke pangkuan Allah SWT mendahului orang tuanya sebagaimana kisah si bocah yang termakan perut bumi.
Tribunnews.com. Pada tanggal 1 februari 2022, bocah laki-laki asal maroko menggemparkan seluruh umat manusia dari ujung timur ke barat, dari ujung selatan ke utara. Bocah ini bernama rayyan oram yang terjatuh ke dalam sumur sedalam 32 meter di pekarangan rumahnya di Desa Ighram Provinsi Chefchaoven Utara Pegunungan Maroko pada selasa malam. Perisitwa ini memilukan seluruh kalangan masyarakat dari kelas bawah sampai ke pemerintahan. Hari di mana rayyan berhasil dievakuasi, masyarakat di seluruh penjuru bumi menunjukkan sorak sorai, tepuk tangan, dan do’a menggelegar saat petugas medis membawa bocah itu dengan tandu merah melewati barisan polisi dan tentara maroko menuju ambulance. Akan tetapi, takdir berkata lain. Selang beberapa menit setelah dievakuasi, rayyan dinyatakan meninggal sebelum penyelamatan berhasil. Kedua orang tua rayyan sangat terpukul dengan kepergian anaknya. Merasa jantung hatinya tercabik-cabik disebabkan mutiara indah tak dapat mereka genggam, rawat dan pelihara lagi.
Kata-kata terakhir dari rayan menurut kerabatnya yaitu reuters, rayyan sempat berteriak meminta tolong untuk diselamatkan. Kerabat itu mengatakan keluarganya pertama kali menyadari rayyan hilang ketika mereka mendengar suara tangisan. Kemudian mereka menggunakan lampu kamera ponsel untuk merekam dan menemukannya. Saat inilah pertama kali rayyan diketahui terjatuh ke dalam tanah dan kedua orang tuanya meminta bantuan kepada pihak pemerintahan untuk mengangkat anaknya. Dia menangis sambil mengeluarkan suara emas meminta untuk di angkat dari dalam tanah yang gelap itu. Terjebak di bawah tanah sedalam 32 meter ditemani rasa sedih dan takut, pernapasan tak bersahabat karena oksigen di bawah tanah semakin berkurang. Mungkin, saat itu rayyan sudah merasa bahwa dirinya akan meninggalkan dunia ini. Meski petugas evakuasi sudah membekali rayyan dengan tabung oksigen, makanan, dan masker, namun rayyan tidak paham dengan cara menggunakan tabung yang berisi udara tersebut.
Sungguh malang nasibmu wahai temanku. Tak terbayang olehku akan perjuanganmu melawan rasa takut dan sedih yang berakhir engkau meninggalkan kami semua, meninggalkan kedua orang tua dan keluargamu. Inilah akhir kisahmu di mana Allah SWT lebih menyayangimu. Kau tak lagi merasa cemas, khawatir, takut karena kau sudah bahagia bersama bidadari-bidadari kecil di surga.
feature ditulish oleh : Abdullah Aly Hammani
SDIT ASHOPA
